Embun Pagi 20 Agustus 2026
BI still on hold BI mempertahankan suku bunga kebijakan di 5,75% pada Aug 26, sesuai dengan ekspektasi kami dan konsensus pasar, seiring Rupiah menguat 0,8% MoM ke IDR17.855/USD dan inflow portofolio asing mencapai USD1,8bn, terutama didorong oleh SRBI dan SBN. Kondisi pasar yang membaik memberikan BI ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini meskipun ketidakpastian Timur Tengah masih tinggi, sekaligus mulai menggeser bauran kebijakan menuju stabilisasi Rupiah yang lebih terarah dan kebijakan makroprudensial yang lebih pro growth.
BI still on hold
BI mempertahankan suku bunga kebijakan di 5,75% pada Aug-26, sesuai dengan ekspektasi kami dan konsensus pasar, seiring Rupiah menguat 0,8% MoM ke IDR17.855/USD dan inflow portofolio asing mencapai USD1,8bn, terutama didorong oleh SRBI dan SBN. Kondisi pasar yang membaik memberikan BI ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini meskipun ketidakpastian Timur Tengah masih tinggi, sekaligus mulai menggeser bauran kebijakan menuju stabilisasi Rupiah yang lebih terarah dan kebijakan makroprudensial yang lebih pro-growth.
BI goes all-out on Rupiah stability, new incentives introduced
BI memperkuat instrumen stabilisasi Rupiah melalui: i) perluasan insentif premi FX swap hedging sebesar 12,5% dari sebelumnya hanya portfolio inflows menjadi mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan FDI mulai Sep-26, dengan fleksibilitas rollover dalam sisa periode kontrak hingga tiga tahun; dan ii) pemberian insentif DNDF sebesar 15%, serta insentif FX swap dan DNDF sebesar 10% melalui LCT. Perluasan insentif tersebut memberikan ruang bagi BI untuk memperdalam likuiditas valas dan menarik sumber inflow yang lebih terdiversifikasi, sehingga mengurangi ketergantungan pada yield yang lebih tinggi dalam menjaga stabilitas Rupiah.
…while creating more room to support domestic growth
Dari sisi pertumbuhan, BI kembali menegaskan upaya untuk membatasi kenaikan yield SRBI lebih lanjut, sementara pertumbuhan kredit meningkat menjadi 13,6% YoY pada Aug-26 dari 12,7% YoY pada Jun-26, mengindikasikan semakin kuatnya fokus terhadap fungsi intermediasi perbankan. Rata-rata kepemilikan SRBI oleh perbankan turun menjadi IDR618tr dalam dua bulan terakhir dari IDR648tr pada lima bulan pertama 2026, menunjukkan BI semakin mengalihkan fungsi stabilisasi Rupiah kepada partisipasi investor asing sekaligus membebaskan likuiditas domestik untuk mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Our view: another 25bps hike remains possible
Kami melihat ruang kenaikan suku bunga sebesar 25bps masih terbuka, terutama apabila potensi kenaikan FFR tetap berada di atas meja dan mendorong penguatan DXY, meskipun urgensi pengetatan saat ini lebih terbatas seiring BI semakin mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga Rupiah. Kenaikan suku bunga akan menjadi lebih relevan apabila Rupiah melemah melampaui IDR18.000/USD dan inflasi kembali berada di atas 3,5% hingga YE2026, terutama dengan risiko kenaikan harga pangan akibat El Niño dan harga minyak global yang lebih tinggi.
